Berita Terkini

Kasus Korupsi Chromebook – Mendobrak Pendidikan Konvensional: Peran Nadiem Makarim dalam Memajukan Teknologi Pendidikan di Indonesia

Berdasarkan informasi, pada hari Kamis, 4 September 2025, Kejaksaan Agung (Kejagung) telah menetapkan mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi pengadaan laptop berbasis Chromebook.

Selain penetapan status tersangka, pihak Kejagung juga telah melakukan penahanan terhadap Nadiem Makarim selama 20 hari ke depan di Rumah Tahanan (Rutan) Salemba, Jakarta Pusat. Kasus ini diduga menyebabkan kerugian negara hingga sekitar Rp 1,98 triliun.

Pengumuman Hasil TKA 2025: Jadwal, Cara Cek, dan Manfaat Sertifikat bagi Siswa

Beberapa media melaporkan bahwa penetapan tersangka ini didasarkan pada peran Nadiem yang diduga terlibat dalam proses pengadaan, termasuk instruksi untuk menggunakan ChromeOS dari Google. Ia menjadi tersangka kelima dalam kasus ini, setelah empat orang lain lebih dulu ditetapkan sebagai tersangka.

Pada masanya, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim dikenal sebagai sosok yang membawa perubahan signifikan di dunia pendidikan Indonesia. Latar belakangnya sebagai pendiri Gojek, sebuah perusahaan teknologi besar, memberikan perspektif baru dalam menghadapi tantangan pendidikan yang selama ini terkesan kaku dan konvensional.

Salah satu fokus utama Nadiem adalah memecah sekat antara pendidikan dan teknologi. Ia menyadari bahwa di era revolusi industri 4.0, penguasaan teknologi bukan lagi sekadar pilihan, melainkan keharusan. Oleh karena itu, berbagai program dan kebijakan inovatif diluncurkan untuk mendorong adopsi teknologi di kalangan pendidik dan peserta didik.

Keinginan yang perlu didukung (Ekologi Konsep)

Nadiem Makarim(KOMPAS.COM/ KIKI SAFITRI. sumberhttps://nasional.kompas.com/read/2025/09/04/15491251/kejagung-tetapkan-nadiem-makarim-tersangka-kasus-korupsi-chromebook)

Platform Digital untuk Pendidik.

Nadiem Makarim dan timnya berhasil menciptakan ekosistem digital yang terintegrasi untuk mendukung para pendidik. Salah satu inisiatif terbesarnya adalah peluncuran platform Merdeka Mengajar. Platform ini menyediakan berbagai modul pelatihan, materi ajar, dan media pembelajaran yang dapat diakses secara gratis oleh guru di seluruh Indonesia.

Sebelumnya, banyak guru, terutama yang berada di daerah terpencil, kesulitan mendapatkan akses ke pelatihan dan sumber daya pendidikan yang berkualitas. Dengan adanya platform ini, batasan geografis seolah menghilang, membuka peluang bagi semua pendidik untuk terus belajar dan meningkatkan kompetensinya.


Imbas Demo DPR, Siswa di Bekasi Belajar Daring Mulai 1 September

Peningkatan Kompetensi Digital Guru

Pemerataan akses tidak akan berarti tanpa peningkatan literasi digital. Nadiem Makarim gencar mendorong pelatihan-pelatihan daring (online) untuk para guru. Mereka dilatih untuk tidak hanya menggunakan perangkat teknologi, tetapi juga untuk mengintegrasikannya ke dalam proses pembelajaran. Misalnya, pemanfaatan video interaktif, aplikasi pembelajaran, dan sistem manajemen pembelajaran (LMS) menjadi hal yang lumrah.

Hal ini secara langsung mengubah cara mengajar para pendidik. Jika sebelumnya metode ceramah dan hafalan mendominasi, kini guru-guru didorong untuk menjadi fasilitator yang kreatif dan adaptif, memanfaatkan teknologi untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih menarik dan bermakna.


Dampak Nyata dan Masa Depan

Upaya Nadiem Makarim ini tak lepas dari tantangan. Resistensi dari pihak yang enggan berubah, keterbatasan infrastruktur internet di beberapa daerah, dan masalah kesenjangan digital masih menjadi pekerjaan rumah. Namun, tak dapat dimungkiri bahwa ia telah menancapkan fondasi kuat untuk masa depan pendidikan Indonesia.

Kehadiran teknologi di ruang-ruang kelas adalah warisan berharga. Melalui kebijakan-kebijakannya, Nadiem Makarim telah membuka jalan bagi para pendidik untuk menjadi melek teknologi, menjadikan mereka tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pembelajar seumur hidup yang siap menghadapi tantangan zaman. Inilah jasa besar yang patut dikenang dan dilanjutkan, terlepas dari segala kontroversi atau pandangan yang menyertainya.

  • Sisi Lain (gajah terlihat dipelupuk mata)

Jauh di tingkat terkecil seperti lingkungan sekolah, meskipun terlihat kecil, memiliki potensi korupsi yang signifikan, terutama terkait pengelolaan dana sekolah dan proses pengambilan keputusan. Bentuk-bentuk korupsi di lingkungan sekolah dapat bervariasi, mulai dari tindakan yang dianggap remeh hingga kasus yang merugikan negara dalam jumlah besar.

Potensi korupsi di sekolah umumnya berpusat pada tiga aspek utama:

  • Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS): Ini adalah sumber pendanaan utama yang paling rentan dikorupsi. Penyelewengan bisa terjadi dalam bentuk:

    • Mark-up harga: Menggelembungkan biaya pembelian barang atau jasa (misalnya, buku, alat tulis, perbaikan gedung) dari harga sebenarnya.

    • Kegiatan fiktif: Membuat laporan kegiatan yang tidak pernah dilaksanakan, namun anggarannya tetap dicairkan.

    • Penggunaan dana untuk kepentingan pribadi: Dana BOS digunakan untuk kebutuhan pribadi kepala sekolah atau staf, seperti biaya perjalanan, pembelian barang pribadi, atau bahkan untuk membayar utang.

  • Pungutan Liar (Pungli): Pungli adalah praktik yang sering terjadi dan merugikan orang tua siswa secara langsung. Contohnya termasuk:

    • Pungutan untuk kegiatan ekstrakurikuler yang seharusnya gratis.

    • Pungutan uang komite atau uang gedung yang tidak transparan atau tidak sesuai ketentuan.

    • Biaya pendaftaran ulang yang tidak ada dasar hukumnya.

  • Pengadaan Barang dan Jasa: Proses pengadaan barang di sekolah rawan terjadi korupsi.

    • Kolusi dengan vendor: Sekolah menunjuk vendor tertentu yang memberikan “komisi” atau keuntungan pribadi.

    • Pembelian tidak sesuai spesifikasi: Barang yang dibeli tidak sesuai dengan standar yang dibutuhkan, tetapi harganya dimark-up.

Untuk mencegah korupsi, diperlukan perbaikan sistem dan peningkatan pengawasan. Beberapa langkah yang dapat dilakukan meliputi:

    • Transparansi Anggaran: Sekolah harus mempublikasikan rencana anggaran dan laporan penggunaan dana secara terbuka, misalnya di papan pengumuman atau situs web sekolah.

    • Partisipasi Komite Sekolah: Melibatkan komite sekolah dan orang tua dalam perencanaan serta pengawasan anggaran secara aktif.

    • Pelaporan dan Audit: Menerapkan mekanisme pelaporan yang ketat dan melakukan audit internal secara rutin.

    • Pendidikan Anti-Korupsi: Mengintegrasikan pendidikan antikorupsi ke dalam kurikulum untuk menanamkan nilai-nilai integritas, kejujuran, dan transparansi sejak dini.

Bagikan